Mengatur Lalu Lintas (Pak Ogah), Bahaya Mengancam Tanpa Berharap Imbalan

0
218
Foto Ist

Batam,- Seiring Meningkatnya populasi masyarakat Batam, tingkat pengangguran juga cukup membludak. Hal ini diakarenakan banyak perusahaan industri gulung tikar, hingga berdampak terhadap pekerja yang terkena PHK. PHK besar-besaran di sebuah perusahaan swasta mendongkrak tingkat pengangguran di Batam drastis mengalami kenaikan. Sehingga mau tak mau masyarakat beralih profesi.

Seperti profesi mengatur lalu lintas kerap disebut pak ogah atau bisa disebut orang yang menertibkan jalan raya tepatnya di pemotongan jalan sambil mengatur lalu lintas. Pak ogah bereaksi tepatnya di beberapa pemotongan jalan dibeberapa titik seperti di dipemotongan jalan Letjen Suprapto depan hotel Sky In sampai ke simpang Basecamp Tanjung Uncang Batuaji.

Selain itu ditempat lain pak ogah juga melakukan aksi penertiban lalu lintas di pemotongan jalan Tiban Centre tepatnya didepan pasar Tiban Centre.

Dari pantauan Redaksi KeprilineNews, tampak pak ogah sedang mengatur lalu lintas yang sedang lalu lalang, membantu kendaraan yang akan membelok di pemotongan jalan raya pada hari Sabtu, (21/09) pukul 17.10 Wib. Hal ini cukup membahayakan keselamatan orang yang lebih dikenal pak ogah tersebut.

Seperti terlihat di persimpangan Tiban Centre tersebut tampak pak ogah masih anak dibawah umur, mereka tidak takut bahaya mengancam dimana kendaraan menabrak mereka. karena aktivitas lalu lintas di beberapa titik tersebut cukup padat, hingga tubuh pak ogah sendiri tertutupi beberapa kendaraan sepeda motor dan kendaraan roda empat.

Namun itu bukan semata-mata untuk mencari sesuatu materi yang lebih. Namun pekerjaan mereka hanya untuk membantu pengendara yang melintas, sedikit berharap imbalan dari siapapun.

Saat redaksi KeprilineNews memperhatikan dari kejauhan terlihat pak ogah sempat duduk di trotoar jalan karena sudah lama berdiri di simpang pemotongan jalan raya tersebut. Namun ada juga pengendara sepeda motor dan roda empat memberikan lembaran uang kertas Rp.1.000,- dan Rp.2.000,-.

Setelah satu jam Redaksi KeprilineNews memperhatikan. Dan mulai menyambangi pak ogah yang sedang terduduk di bahu jalan. Saat bincang-bincang pak ogah mengatakan kalau profesi ini hanya untuk mengisi luang, yaitu membantu pengendara untuk mempermudah melintas di persimpangan pemotongan jalan.

Dia bercerita dulunya dia bekerja di perusahaan swasta. Ia bekerja di perusahaan swasta dan berhenti karena habis kontrak dan perusahaan tutup. Namun itu tidak mematahkan semangatnya, ia mulai berprofesi kuli bangunan, namun sayangnya saat ini belum ada proyek.

” Sekarang Belum ada kerjaan jadi tukang, kalau ngatur lalu lintas hanya sekedar aja sambil nunggu kerjaan” kata laki-laki berambut ikal berkulit hitam itu.

Saat ditanya mengenai penghasilan selama menjadi pak ogah ia mengungkapkan, penghasilan pekerja sukarela seperti ini tidaklah menjadi patokan bisa mengumpul uang lebih. Karena pastinya tidak semua pengendara yang melintas terima dengan adanya pak ogah ada yang pro dan juga ada yang kontra.

”Pernah bg saya dibentak disuruh minggir sama pengendara sambil menancap gas, itu gak membuat aku jera karena aku gak berharap uang kalau dikasih syukur gak dikasih gak apa-apa” kata dia dengan wajah letih.

Perjuangan pak ogah sebenarnya cukup diacungi jempol, karena mereka berani mengatur lalu lintas di pemotongan jalan raya tanpa ada ketakutan sedikitpun. Seperti yang terlihat di jalan Tiban Centre anak-anak dibawah umur yang menjadi pak ogah, bermandikan keringat diteriknya matahari.

Sesekali tubuh kecil tersebut melangkah ketengah jalan untuk memberhentikan pengendara sambil memberikan aba-aba pengendara yang membelok untuk berjalan hingga lalu lintas berjalan lancar kembali.

Namun di tempat lain ada masyarakat yang kontra dengan kehadiran pak ogah. Ada yang
menyebutkkan kalau pak ogah hanya mengganggu pengendara yang melintas. Bahkan bukan itu saja ada yang berkeinginan melaporkan pak ogah ke kepolisian supaya ditertibkan dan ke dinas sosial.

Saat bincang -bincang dengan Redaksi KeprilineNews, Orang yang tidak mau disebut namanya tersebut mengaku merasa terganggu apalagi kalau profesi pak ogah dilakoni anak dibawah umur. Namun kenyataannya orang yang berprofesi sebagai pak ogah tidak mengharap imbalan kepada pengendara.

Sedangkan ada juga masyarakat yang mendukung adanya profesi pak ogah. Karena sangat membantu pengendara apalagi saat lalu lintas padat dan banyak kendaraan melaju kencang-kencang.

Seperti yang diungkapkan ibu Sumiati (51) ia menyebutkan saat melintas di pemotongan batuaji kendaraan yang melaju kencang sangat menakutkan bagi wanita separuh baya itu. Bahkan dia pernah menunggu sampai 20-25 menit untuk melewati pemotongan jalan karena lalu lintas didaerah tersebut sangat padat.

”Saya takut kalau lewat disini motor sama mobil kenceng-kenceng, kalau gak ada yang ngatur jalan mungkin saya tunggu sampai subuh baru bisa lewat,”kata wanita itu bersemangat.

Penulis: Parlin